Dari Kunjungan Kerja Bupati Bone Bolango di Kabupaten Bone

Aroma dupa langsung menyerbak, asapnya pekat menusuk mata. Hening, ruangan itu tidak seberapa luasnya. Namun, menyimpan benda pusaka Raja Bone. Mulai dari perisai yang gagangnya disebut-sebut menggunakan tulang punggung manusia hingga rambut arung Palakka yang terus tumbuh hingga selempang emas seberat 5 kg hadiah dari pemeritah Belanda. Berikut cerita dibalik kunjungan kerja Bupati Bone Bolango di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan.

Catatan Humas Bone Bolango

Tidak ada yang menyangka bangunan yang letaknya berada disamping rumah jabatan Bupati Bone adalah museum peninggalan Raja Bone. Museum Arajangnge namanya, museum itu tertutup. Hanya dibuka satu tahun sekali, setiap tanggal 6 April bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Bone. Dan Pemda Bone Bolango diberi kehormatan melihat lebih dekat kekayaan sejarah dan Budaya kerajaan Bone, seusai penandatanganan MoU antara Pemerintah Kabupaten Bone dan Kabupaten Bone Bolango.

Bupati Bone DR HA Fahsar Mahdin Padjlangi Msi menerima kunjungan dari Pemerintah Kabupaten Bone Bolango dengan baik saat kunjungan di Bone. Bahkan, rombongan dipimpin Bupati Hamim Pou dan Ketua DPRD Bone Bolango Faisal Mohi melibatkan camat, kepala Bappeda hingga instansi teknis disambut dengan kehormatan. Maksud kedatangan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango disana untuk belajar sekaligus membangun kerja sama lewat bidang peternakan. Mengingat di Kabupaten Bone memiliki kelompok ternak sapi yang mandiri yang omsetnya tembus angka 1,2 miliar dalam waktu lima tahun.

Bupati Bone yang juga sebagai turunan dari raja Bone pun mengajak Bupati dan rombongan ke museum tepat dikompleks rumah jabatan Bupati Bone. Hanya berjalan kaki dari rumah jabatan. Bangunan itu, tampak seragam dengan bangunan rumah jabatan. Ada beberapa pasukan pengamanan dari Satpol PP yang terlihat berjaga-jaga. Gembok pintu yang terlihat tua itu dibuka. Ada dua ruangan di dalam gedung yang tidak terlalu besar, ruang pertama berisi gambar besar pahlawan Bone Arung Palakka serta daftar silsilah keluarga kerajaan. Di ruang ke dua yang dibatasi pintu besar dan masih digembok. Semua tamu harus membuka alas kaki, ruangan itu tampak terawat. Satu lagi pantangannya, bagi pengunjung wanita yang sementara datang bulan dilarang untuk masuk. Aroma mistis terasa ketika pintu menuju ruang tempat pusaka dibuka. Bau dupa menyerbak, sebuah peti besar menyambut di depan pintu. Rombongan mulai terdiam, suasananya beda. Bupati Bone terus mendampingi Bupati Hamim menjelaskan semua benda pusaka disana. Bupati dikenalkan dengan perisai pasukan kerajaan. Perisai yang dipakai untuk perang itu bersarung emas, dengan motif berbeda. Bupati Bone rela membuka kotak kaca besar tempat perisai pasukan kerajaan dan menyerahkan kepada Bupati Hamim untuk melihat secara detail. “Gagangnya berasal dari tulang punggung manusia,”ujar Bupati Bone.

Lain perisai lain pula tombak yang digadang-gadang milik Raja Bone Arung Palakka yang konon katanya merupakan sang ayam jantan dari timur sebenarnya. Hampir 3 meter tinggi tongkat itu. Katanya tinggi tongkat sama dengan tinggi tubuh Raja Arung Palakka, dan itu bisa dilihat dari gambar asli Arung Palakka dengan tombak dan selempag emas. Arung Palakka dikenal sebagai raja yang kesatria, badanya tinggi besar hingga ditakuti semua musuhnya. Di museum ini pun beberapa peninggalan Raja Arung Palakka bisa dilihat, seperti potongan rambut Arung Palakka yang setiap tahun terus bertambah panjang, keris pusaka hingga gendang dan payung pusaka. Satu lagi benda pusaka yang menarik perhatian, selempang emas seberat 5kg plus piagam dari emas untuk Arung Palaka. Sementera terkesima, Bupati Bone lantas mengambil benda pusaka itu dan mengalungkan pada Bupati Hamim. Sebuah kehormatan tentunya. Apalagi kata Bupati Bone hal ini jarang sekali dilakukannya. Selempang emas yang dipakai Bupati Bone seperti selendang yang terurai sampai lutut. Padahal ketika dipakai Arung Palakka, selempang emas itu terikat ketat hanya dibadannya. Bisa dibayangkan besarnya tubuh Raja Arung Palakka. Hingga beredar kabar, julukan pemerintah belanda Ayam jantan dari timur adalah untuk Raja Bone Arung Palakka.

Perjalanan berakhir di ruang silsilah raja Bone. Kabar tentang hubungan kekerabatan antara Bone dan Kabupaten Bone Bolango pun sedikit tersingkap. Perjalanan singkat sarat nilai sejarah. Pesan Bung Karno, Jas Merah jangan melupakan sejarah. Dokumtasi sejarah yang tersusun rapi ini harus ada di Bone Bolango. Meningat Bone Bolango memiliki nilai adat sejarah dan budaya yang tinggi pula. Akhirnya, terima kasih pemerintah Kabupaten Bone, untuk sambutan dan kehormatan. Sampai jumpa lagi di Kabupaten Bone Bolango (hms/afik)